
Beberapa saat, lagu itu berakhir. Diiringi tepuk tangan yang meriah Huda berdiri mengucapkan terima kasih, lalu membungkuk takzim kemudian melangkah kembali kepada Aisyah. Ketika dilihatnya Naura tidak ada lagi, dia melepas pandang ke sekeliling ruangan kemudian kembali kepada Aisyah dengan penuh tanda tanya.
“Tadi dia pamit, katanya ada keperluan yang sangat mendesak.” Naura memberikan penjelasan, menjawab tanda tanya dalam pandangan Huda.
“Ohh.”
“Naura itu kekasihmu dulu ya?” Aisyah bertanya dengan lugu, semata-mata karena dorongan rasa ingin tahu. Tidak terlihat kecemburuan di wajahnya.
“Hhhhh....,” Huda menarik nafas panjang. “Kalau kau bertanya apakah aku pernah mencintainya, maka jawabanya adalah iya. Tapi bila pertanyaannya apakah kami pernah menjadi sepasang kekasih, maka jawabannya adalah aku tidak tahu. Karena tidak pernah ada kata cinta terucap antara kami. Tapi sudahlah Syah, sekarang kau istriku dan aku suamimu. Kita kan harus belajar menjadi pengantin baru, hahaha.”
“Kok belajar?”
“Emang Aisyah dah bisa?”
Mendapat pertanyaan balik yang menjebak seperti itu membuat wajah Aisyah bersemu. “Mmm belum sih, tapi pakai feeling aja kali bisa.”
“Hahaha....” Tawa keduanya berderai bahagia.
Sementara itu, entah di belahan bumi yang mana, Naura menguat-nguatkan hatinya, melangkah dengan tidak bersemangat. Baginya tinggal satu tempat saja di muka bumi ini yang dia masih merasa sebagai manusia yang memiliki sedikit arti, yaitu Bandung. Hari itu juga dia memutuskan untuk kembali.
Naura menerawangkan pikirannya kepada Huda. “Hhh..., Huda telah memulai hidup barunya dengan Aisyah, akupun harus berdamai dengan nasibku, menerima hidup ini apa adanya. Hidup ini adalah kehendakNya, bukan kehendakku.
Naura kembali menjalani hidupnya sebagai seorang dokter, dokter yang sendiri, dokter yang janda. Tidak terlalu banyak perubahan pada dirinya, dia tetap cantik, tetap cerdas. Hanya saja sekarang menjadi lebih pendiam.
Hingga suatu ketika ada seorang pasien ditempat prakteknya yang tanpa diduga-duga melamarnya.
Dua kali datang berobat dan pada kali ketiga dia tetap mendaftar layaknya pasien lainnya tetapi ketika telah berada dalam kamar periksa dia menyatakan tidak mengalami gangguan atau keluhan apa-apa, hanya terdiam beberapa saat sebelum dengan terbata-bata mengatakan, “Saya ingin melamar dokter.”
Naura terkejut mendengar itu, tetapi dia dapat mengatasi rasa terkejut itu dengan cepat. “Mmm saya tidak mengenal saudara.”
“Saya tidak menemukan cara untuk kita saling mengenal, dan bila harus mengenal adalah syarat untuk diperbolehkan melamar dokter, saya khawatir tidak dapat memenuhinya.”
“Kenapa?”
“Itu pekerjaan sulit bagi saya. Saya hampir-hampir tidak mampu memulai suatu hubungan.”
“Oh, baiklah, kita biasa-biasa saja dulu, nama mas siapa?” Naura mengganti panggilan saudaranya dengan ‘mas’ untuk lebih mencairkan suasana.
“Oh eh, Ridwan.”
“Asal?”
“Palembang.”
“Apa keluhan mas?”
“Maksud dokter?”
“Apa hasrat melamar itu sampai menggangu?”
“Ah dokter.”
“Hahaha.” Naura tanpa disadarinya bisa tertawa. “Kerja dimana mas Ridwan?”
“Saya peneliti dokter.”
“Ohh, banyak istirahat yah.”
“Maksud dokter?”
“Oh eh,”
“Gak apa-apa dok, saya permisi dulu.”
Naura mulai membatin setelah kejadian itu’Apakah ini jodoh yang dikirimkan oleh Yang Maha Kuasa untukku?’
Pertemuan pertama yang singkat dan tidak biasa itu ternyata berlanjut dengan pertemuan-pertemuan lainnya yang tidak saja terjadi di ruang praktek dr Naura.
Ridwan yang sejatinya tidak pandai bergaul pelan-pelan berubah menjadi manusia normal seperti pada umumnya. Dia mulai bisa berkomunikasi dengan baik bahkan menjadi teman bicara dan berdiskusi yang menyenangkan. Pun Naura pelan-pelan bisa membuka hatinya sedikit demi sedikit.
“Baiklah, kita bisa berhubungan tidak saja sebagai dokter dan pasien, tapi mohon tidak membicarakan tentang cinta dan perasaan. Itu nanti-nanti saja.” Itulah awalnya mereka mulai menjalin hubungan dan kelihatan sering bersama-sama. Tapi setelah berapa lama, malah Naura yang mengingatkan kembali tentang lamaran Ridwan. “Apa lamaran yang dulu itu masih ditunggu jawabannya?” Naura bertanya.
“Tidak usah.” Ridwan menjawab tegas.
“Kenapa?”
“Karena aku sudah tahu jawabannya.”
“Apa?”
”Diterima!” Ridwan menjawab dengan sangat meyakinkan, terlihat dari wajahnya yang berbinar-binar penuh senyum.
“Iyah, kita akan menikah.”
“Naura cinta padaku?”
“Kita tidak membahas tentang itu mas Ridwan, kita akan menikah, itu saja.”
“Ohh.” Ridwan agak sedikit bingung, tetapi dia tidak mau berpanjang-panjang dengan itu, yang penting Naura mau menikah denganku, katanya dalam hati, cukup.
Undangan disebar, karpet digelar, katering dibayar, cat rumah yang sudah pudar ditukar, karena akan ada yang memberi mahar.
Janur sudah melengkung, meja tamu sudah berpayung dan sanak famili sudah datang ngariung.
Naura akan menikah lagi, Huda diundang dan insya Allah dia sudah memastikan akan datang. Bagaimana juga Naura adalah orang terdekatnya sejak kecil dan dia ingat Naura dulu memaksakan hadir ketika Huda menikah dengan Aisyah.
Tiba saat ijab kabul diucapkan, Huda belum kelihatan batang hidungnya, walau anggota keluarga Huda yang lain sudah ada yang datang.
Ada perasaan bahagia di hati Naura, walaupun sudah terlambat toh akhirnya dia bersuami juga. Ada rasa ragu karena sampai hari pernikahannya dia belum yakin apakah benar-benar ada cinta di hatinya untuk Ridwan. Ada rasa cemas juga, karena disaat-saat seperti inilah dulu dia kehilangan Nawi untuk selama-lamanya. Namun dengan menarik nafas panjang, Naura meyakinkan sekali lagi kepada hatinya, bahwa ini adalah kehendak Yang Maha Kuasa, bukan kehendak dirinya, dan itulah yang yang harus terjadi. Setelah melepas pandang ke seluruh undangan yang hadir untuk sekali lagi memastikan kehadiran Huda, Naura akhirnya mengisyaratkan kalau acara akad nikah segera saja dimulai. ‘Hhhh Huda mungkin saja terlambat, Amerika bukanlah tempat yang dekat.’ Katanya dalam hati.
Akad nikah itu berlangsung khidmat dan lancar. Setelah semuanya selesai Naura tersenyum lega. Namun hanya dalam waktu beberapa menit seorang kerabat Huda menghampirinya dan menyampaikan pamit, tidak bisa menunggu acara sampai benar-benar selesai, Huda mengalami kecelakaan di jalan tol Cipularang.
“Apa?” Naura kembali berduka.
Hujan yang sangat deras menerpa jalan membuat jarak pandang Huda sangat berkurang, ditambah dengan keadaan jalan yang tidak familier dengannya membuatnya tidak dapat menghindari truk yang seperti tiba-tiba saja ada didepan matanya. Mobil yang dikendarainya menghantam bagian belakang truk itu. Huda mengalami luka-luka yang sangat serius dan setelah tidak sadarkan diri beberapa lama dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Ridwan tidak tahu apa-apa tentang apa yang sebenarnya Naura rasakan. Tetapi dia dengan sabar mendampinginya mengikuti prosesi pemakaman.
“Nggak apa-apa mas, hanya sedih aja.” Begitulah selalu dijawabnya ketika Ridwan menanyakan tentang airmatanya yang tidak henti-hentinya mengalir. Naura benar-benar merasakan kehilangan.
Dulu waktu Nawi meninggal, Naura merasakan ada sesuatu yang hilang darinya tapi tidak semua. Kemudian Huda menikah, ada lagi bagian dari dirinya yang serasa lepas. Kemudian sekarang Huda meninggal, Naura merasakan hidupnya benar-benar hampa.
Naura mengambil surat Huda sebagaimana diwasiatkan kepadanya di e-mail dulu, dia membuka save deposite box yang disiapkan Huda untuknya. Kemudian dengan membuat alasan pekerjaan kantornya dia terbang untuk mengambil warisan yang disebut Huda dalam surat berada di Batam, ditempat dulu mereka biasa menyimpan barang-barang rahasia sewaktu kecil. Huda mebekalinya dengan sebuah kunci.
Naura mengeluarkan kotak kayu dari dalam sebuah lubah di bawah pohon beringin dekat bekas rumah mereka dulu. Pohon beringin yang tumbuh di atas batu itu semakin besar saja dengan lubah dibawah pohonnya yang masih seperti dulu. Tidak basah tetapi tidak juga kering. Kotak kayu yang sudah cukup lama tersimpan dialam lubang di bawah pohon itu dikeluarkan Naura. Setelah mengamati sebentar dia memebuka kuncinya dengan kunci yang dibawanya dari bank lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Hanya sebuah kapsul berwarna hijau. Dulu kapsul itulah yang biasa mereka jadikan tempat menyimpan barang-barang, semacam buku, perhiasan, atau benda-benda lain yang menurut mereka menarik dan perlu disimpan. Naura kembali membuka kapsul itu dengan menarik kedua ujungnya dengan perasaan dan jari-jari yang bergetar. Perasaan naura campur baur antara sedih dan penasaran. Semuanya menggumpal menjadi satu. Naura tidak mengira benda-benda kecil dulu itu masih tersimpan dengan rapih dan utuh. Ia sama sekali tidak menduga kalau Huda menganggapnya begitu berarti. Satu yang paling menarik perhatian, sebuah buku tulis berukuran kecil, tebal dan agak lusuh. Sebuah buku harian. Disampulnya tertulis, TANPA KATA, TANPA SUARA, HANYA RASA.
Sebaris rasa perih menyayat di hati Naura. Dia melanjutkan membuka sampul buku harian itu. Naura: Cintaku seumur hidup, sampai mati, sampai hidup setelah mati.
Naura membacanya dengan mata bersimbah. Hati yang tadi teriris, sekarang juga terhempas berkali-kali. Sakit, perih, pilu, pedih, sesal, kecewa bergumpal-gumpal menjadi satu dan melemparkan Naura ke dasar duka yang dalamnya tak terukur.
Dengan airmata yang terus menerus menetesi punggung tangannya yang terulur, disentuhnya lagi buku harian itu lalu diguratkannya selarik kalimat di sampul belakang, “Huda, kau telah tiada dan aku telah bersama orang lain. Mustahil kusampaikan hatiku padamu di dunia ini, kan kucintai engkau di kehidupan setelah mati itu.” Lalu di simpannya lagi buku itu ketempat semula untuk tidak dibuka-buka lagi selamanya.




