
Perjalanan yang panjang dan melelahkan itu akhirnya berakhir juga. Ada tarikan nafas pertanda kecapean dan perasaan lega terhembus dari mulutnya.
“Akhirnya...., kita sampai juga.” Katanya lirih.
Beberapa barang bawaannya diletakkannya di sembarang tempat. Sebagian yang dapat ku bawa juga kutaruh di atas kursi dan meja. Dengan masih mengenakan seluruh pakaian dan sendal jepit bertali banyak di telapak kakinya, dia menghempaskan badannya di kursi rotan panjang berlapis busa lembut di teras. Hanya sebentar matanya menatap sekeliling, lalu pelan-pelan menutup.
Kelelahan yang sangat, udara yang dingin dan rasa kantuk yang menumpuk membuat tubuhnya tidak dapat bertahan lama. Hanya dalam hitungan sedikit menit, telah terdengar dengkurnya yang halus.
Aku tertegun, kuhentikan langkah yang sebelumnya menuju ke tempat air, hanya untuk sekedar mencuci muka. Kuseret kursi rotan kecil lalu duduk menatapnya.
Segurat wajah yang teduh menyiratkan banyak damai tersimpan padanya. Bersih, lugu dangan sangat apa adanya. Mata yang selama ini selalu menatap teduh sekarang tertutup. Dia sedang menikmati istirahatnya yang terlambat, karena jauhnya perjalanan yang diluar perkiraan.
Kuturunkan badan dari kursi lalu kutatap wajahnya lebih dekat dengan cara berdiri diatas lutut di lantai tak tahan hanya menatap, kuelus pipinya lembut dengan punggung tanganku. “Ahh, A Langit.” Gumamku kecil. Ada rasa cemburu padanya karena begitu sederhananya baginya hidup ini.
“Kita hanya perlu mengikuti jalannya saja Yi.” Begitu katanya selalu, bila menurun kita ikut sesuaikan hidup layaknya orang yang sedang turun, berhati-hatilah. Pun begitu, kalau sedang menanjak, sekali-sekali berhentilah untuk menarik nafas dan memperhatikan dunia sekitar. Bila sedang di puncakpun berpeganglah kuat-kuat karena biasanya diatas angin lebih kencang. Bila masih kuat berjalanlah, bila sudah lelah istirahatlah...” Begitulah yang dikatakannya dan dilakukannya selalu seperti sekarang.
Hhhh, pikiran yang sederhana, hidup yang sederhana, juga cintanya yang sederhana juga. “Aku mencintaimu, hanya sebatas mencintaimu yi tidak lebih.”
“Maksud Aa?”
“Iyah hanya mencintai, tanpa syarat, tanpa konsekuensi, tanpa ada kalimat lanjutan. Kau boleh mencintai boleh juga tidak. Pun bila mencintai boleh berhenti kapanpun kau mau.”
“Kok begitu?”
“Karena akupun begitu. Aku mencintai karena aku mencintai. Tanpa minta persetujuan darimu terlebih dahulu dan tanpa memperdulikan apa kau mencintaiku atau tidak. Bagiku itu tidak penting.”
“Sampai kapan kau mencintaiku?”
“Yah sampai aku tidak mencintaimu lagi, dan aku tidak tahu itu kapan.”
“Ahh Aa, aku telah mencintaimu sebelum kau mengatakannya, mungkin sebelum kau berpikir ke arah itu.”
Kudekatkan wajahku ke wajahnya, lalu kucium lembut bibirnya. Aa, aku hanya mencontoh yang kau lakukan, kau tidak meminta ijin terlebih dahulu padaku sebelum mencintaiku. Sekarang ijinkan aku untuk tidak perlu meminta ijin terlebih dahulu untuk menciummu.
“Aa, i luv u.”




