Kata pepatah, “Malu bertanya sesat di jalan.” Tatapi ada pula peribahasa “Kura-kura dalam perahu, pura pura tidak tahu.” Atau “Sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula.”
Persoalannya, kapan papatah itu dipakai, kapan peribahasa itu diikuti. Suatu ketika ada sesseorang yang bertanya tentang Miyabi dijawab oleh yang ditanya dengan “Pura-pura lu!” padahal si penanya benar-benar tidak tahu. Sebaliknya ketika sang guru membuka kesempatan seluas-luasnya kepada murid-muridnya dengan menghimbau “Ada yang mau bertanya?” semua murid diam seribu basa. Tapi ketika dibagikan kertas soal, sebagian besar murid tidak dapat menyelesaikan. Sang guru pun menjadi bingung.
Tanya menanya adalah interaktif, adalah hal komunikasi. Dia adalah alat atau sarana yang bisa dipakai bisa juga tidak. Keraguan, ketidak-tahuan, ngetes dan sebagainya membuat orang menjadi bertanya. Sebaliknya juga, sudah tahu, rasa takut, segan, assumsi dan sebagainya membuat seseorang urung untuk bertanya.
Pengalamanku, ketika perlu mengambil sikap tentang sesuatu, karena tidak yakin dengan assumsi sendiri, akupun bertanya. Tapi mungkin bertanyanya sudah terlalu banyak dan situasinya sedang tidak pas sehingga jawaban terakhir yang kuterima “Diam..!”
Oopss! Baru sadar kalu aku sudah terkesan rewel, terlalu banyak tanya. Selanjutnya mungkin aku harus memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu berdasarkan pikiran dan perasaanku saja, bukankah aku sudah memiliki sedikit pengetahuan tentang itu. Mudah-mudahan benar. Eh eh eh, ternyata inipun salah, “Sok tahu, tahu darimana? Emang udah nanya?” Duh duh duh, mungkin sebaiknya sebelum bertanya ada baiknya kalau bertanya dulu, “Bolehkah saya bertanya?”
Persoalannya, kapan papatah itu dipakai, kapan peribahasa itu diikuti. Suatu ketika ada sesseorang yang bertanya tentang Miyabi dijawab oleh yang ditanya dengan “Pura-pura lu!” padahal si penanya benar-benar tidak tahu. Sebaliknya ketika sang guru membuka kesempatan seluas-luasnya kepada murid-muridnya dengan menghimbau “Ada yang mau bertanya?” semua murid diam seribu basa. Tapi ketika dibagikan kertas soal, sebagian besar murid tidak dapat menyelesaikan. Sang guru pun menjadi bingung.
Tanya menanya adalah interaktif, adalah hal komunikasi. Dia adalah alat atau sarana yang bisa dipakai bisa juga tidak. Keraguan, ketidak-tahuan, ngetes dan sebagainya membuat orang menjadi bertanya. Sebaliknya juga, sudah tahu, rasa takut, segan, assumsi dan sebagainya membuat seseorang urung untuk bertanya.
Pengalamanku, ketika perlu mengambil sikap tentang sesuatu, karena tidak yakin dengan assumsi sendiri, akupun bertanya. Tapi mungkin bertanyanya sudah terlalu banyak dan situasinya sedang tidak pas sehingga jawaban terakhir yang kuterima “Diam..!”
Oopss! Baru sadar kalu aku sudah terkesan rewel, terlalu banyak tanya. Selanjutnya mungkin aku harus memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu berdasarkan pikiran dan perasaanku saja, bukankah aku sudah memiliki sedikit pengetahuan tentang itu. Mudah-mudahan benar. Eh eh eh, ternyata inipun salah, “Sok tahu, tahu darimana? Emang udah nanya?” Duh duh duh, mungkin sebaiknya sebelum bertanya ada baiknya kalau bertanya dulu, “Bolehkah saya bertanya?”






2 pesan:
2:45 PM
Ada baiknya melihat wajah langsung untuk mengetahui jawaban ringkasan diatas...raut wajah dapat sedikitnya membantu memberikan jawabannya pula.
Pertanyaan yang tertunda ada baiknya juga untuk mencegah turunnya hujan air mata, karena tak sanggup menjawab dan berkata2 selain terisak.
7:37 AM
Gampang atuuuhhh...
Kalo disuruh nanya ya qt nanya, kalo ga dikasih kesempatan bertanya ya mending diem aja...atau seperti yang sudah disampaikan, minta izin dulu untuk mengajukan pertanyaan :)
Post a Comment