
Kampung kecilku ini begitu sederhana, segalanya serba apa adanya. Lampu lampu masih terlihat temaram ketika waktunya datang sang raja matahari bersembunyi dari tatapan rembulan malam, berjalan menuju mesjid kecil dibawah pemukiman itu saja masih harus membawa obor atau senter untuk menerangi jalan, tapi syukurlah bukan hanya aku sendiri saja yang ingin memburu pahala setiap harinya, banyak dari tetangga dan saudara sekampungku mulai dari yang kecil sampai orang dewasa pun beramai ramai menuju tepat ibadat umat Islam tersebut.
Namanya mesjid As-sallamah, mesjid yang cukup luas untuk menampung seluruh jamaah dikampung Batu Ngolosod yang jumlahnya masih sedikit, jauh dari mewah seperti dikota yang sering diliput di Tv Tv itu, dindingnya saja masih terbuat dari bilik bambu yang sudah cukup tua, ada bolong bolongnya sedikit terlihat jelas disudut sana, sedangkan tiangnya masih cukup bagus dan terawat, hmm mungkin dikarenakan terbuat dari kayu albasiyah yang berdiameter cukup besar...tidak sampai cukup terlingkar jika ku peluk, jumlahnya ada 5 tiang yang mana katanya merupakan simbol dari 5 waktu shalat wajib yang di perintahkan Allah SWT. Alhamdulillah atapnya sekarang sudah diganti dengan genting biasa itu, tidak lagi memakai ijuk seperti dulu yang mana kala datang hujan deras mengguyur airnya seringkali merembes masuk kedalam ruangan mesjid.
Batu ngolosod adalah sebuah nama perkampungan yang terdapat di kota Bandung, yang mana memiliki arti adalah batu yang mau jatuh. Arti kata “Ngolosod” adalah mau jatuh/ hampir jatuh dikarenakan sesuatu yang licin, disini digambarkan bahwa kampungku itu diujung perbatasannya adalah sebuah gunung yang dipenuhi dengan bebatuan besar dan sering terjatuh kebawah yang mana terdapat sebuah sungai yang cukup deras bernama sungai CiBatu. Anak anak dilarang keras oleh orang tua meraka untuk bermain dekat perbatasan itu dikarenakan takut tertimpa bebatuan besar dari atas bukit.
Di desa kami yang terpencil itu hanya ada beberapa orang saja yang sudah memiliki Televisi, itu pun warnanya masih hitam putih, dan hanya satu orang yang memiliki televisi berwarna dengan ukuran 29 inchi, beliau adalah Juragan ki Diki, tapi sayangnya sangat jarang sekali ki Diki membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan para tetangganya untuk menonton bersama, sebutlah dia sedang kumat pelitnya! Namun ketika Ki Diki sedang bermurah hati beliau dengan ramahnya mempersilahkan kami masuk ke ruang keluarganya bahkan para orang dewasa disuguhi beberapa gelas kopi dan gorangan alakadarnya, namun sayang juga, ketika itu seringnya mereka menonton acara sepak bola bersama...hhh sedangkan aku tidak begitu suka menontonnya...dan akhirnya kami sering bermain main menghabiskan waktu disekitar halaman mesjid As-sallamah.
Aku dan teman temanku setiap seminggu sekali sering bergantian membersihkan mesjid, kami mengatur bagian piket pasukan piket bersih bersih bergiliran setiap harinya, walaupun hanya menyapu dan mengepel terkadang kami suka kelupaan dan merasa malas, karena walaupun dibersihkan tetap saja keadaannya tidak jauh lebih baik, maksudku ada ada saja debu dan kotoran seperti dedaunan yang masuk lewat jendela mesjid yang belum diperbaiki itu. Namun Setiap sebulan sekali kami para pasukan piket bersih bersih mesjid sering berkumpul bersama untuk “beberesih bareng bareng” kali itu tidak hanya menyapu dan mengepel, tapi juga membersihkan kaca, memotong rumput disekitar halaman, membersihkan mimbar, bahkan membersihkan genting yang sudah penuh dengan dedaunan kering dan ranting ranting pohon yang berjatuhan kesana. Hhh memang cukup melelahkan, namun semangat kami tidak pernah padam, apalagi kalau para orang tua dikampung ikutan membantu beberesih (Bersih bersih), dan sering ditemani suguhan teh manis dan gorengan seadanya, seperti gorengan pisang, singkong, ubi jalar, dan ulen ketan...tau gak?
Katanya sih tahun depan akan ada rencana perbaikan jalan, dan beberapa langkah pemodernisasian atau istilah asing apalah yang tidak aku mengerti yang akan dilakukan di kampung kami...hmm aku tidak yakin, akankah dampaknya masihkah akan terasa lebih baik dari kehidupan kami yang sekarang ini?, terutama mengenai keselarasan hidup beragama dan bermasyarakat yang sederhana itu yang susah sekali didapatkan diperkotaan.
Dan itu hanyalah penggalan lama cerita dulu ketika masih jauh waktu datang hari ini, .... jauh berbeda dengan keadaan sekarang, jaranng sekali kutemui kesederhanaan itu.





0 pesan:
Post a Comment