Spiga

Keprihatinan saya pada dunia blogger/ website Indonesia yang masih saja belum dapat bersikap sehat dalam hal mengcopy paste tulisan orang lain, korbannya termasuk Blog ini, banyak sekali tulisan - tulisan yang diposting ulang kembali tanpa menyebutkan sumber aslinya.

Jangan Asal Copy Paste, karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya.
Jika anda ingin mengcopy paste Tulisan/ Content Di Blog ini saya persilahkan, namun dengan catatan HARAP MENYEBUTKAN NAMA PENULIS (Nijar Hisam/ Langit Hening) DAN SUMBER URL LINK BLOG INI!

Dangdut

tarik maaaang...

Beberapa waktu yang lalu, tak sengaja kami nonton kontes dangdut di sebuah stasiun televisi swasta. Kontes yang diselenggarakan untuk menjaring penyanyi-penyanyi dangdut baru dari seluruh indonesia. Tidak terlalu menarik sih sebenarnya, karena dangdut ya begitu-begitu saja. Tapi yang sekali ini agak berbeda karena salah satu juri (atau komentator?) pada kontes kali ini, sepertinya adalah seorang yang benar-benar akademisi dangdut. Memberikan komentar, mmm, mungkin lebih tepatnya mengevaluasi penampilan kontestan dengan sangat teoritis (memang ada teori dangdut?), menyampaikannya dengan bahasa yang sangat vulgar dan tidak jarang kadang seperti sengaja ingin membuat para peserta kelihatan bodoh. Seperti suatu ketika dia menanyakan arti sebuah kata dalam bahasa inggris. Dia menekankan apakah peserta itu tahu tahu artinya? Peserta yang ditanyai menjawab kurang mengerti, dia mengejar terus, jawab tidak tahu! Kalau memang tidak tahu! Apa urusannya penyanyi dangdut dengan bahasa inggris? Oh seremnya.

Dangdut adalah salah satu jenis musik, dan hubungannya dengan saya, karena saya adalah orang melayu maka sudah dari sananya saya suka dangdut. Bila dicermati, terutama beberapa tahun belakangan ini, penyanyi dangdut bertambah secara sangat spektakuler, ada pendatang baru hasil kontes-kontes tersebut, ada juga penyanyi dari jenis musik yang lain yang ikut berdangdut karena tergiur ingin mencicipi rejeki dari jenis musik ini. Berbeda dengan jenis musik lain terutama pop yang banyak menghasilkan grup-grup musik baru, dangdut adalah miskin grup musik baru. Grup musik yang sudah adapun adalah dalam hitungan jari bahkan mungkin hitungan jari dari sebelah tangan saja. Juga berbeda dengan jenis musik pop yang banyak sekali menghasilkan lagu-lagu baru, musik dangdut juga miskin sekali lagu-lagu baru. Kebanyakan penyanyi dangdut adalah menyanyikan lagu-lagu yang sudah ada. Kadang apa adanya, kadang dengan sedikit improvisasi. Mengapa? Mungkin para pedangdut itu sendirilah yang tahu mengapanya. Mungkin karena penyanyi dangdut menyanyi seperti mengkonsumsi, tinggal mangap dan telan, jadi tidak membutuhkan proses kreatifitas sedikitpun.

Dalam hal penciptaan lagupun begitu, bila sebuah lagu tercipta maka itu menjadi milik semua penghuni dunia dangdut itu, semua penyanyi bebas menyanyikan, tanpa beban, bahkan tanpa rasa malu sedikitpun!
Membuat grup band baru, atau menciptakan sebuah lagu, adalah proses berpikir, proses kreatif dan itu seperti nya enggan dilakukan oleh insan dangdut, mungkin malas, mungkin juga tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Pragmatis, kalau hanya dengan menyanyi saja bisa kaya, kenapa pula harus capek-capek mencipta lagu atau membuat grup band baru? Dan setelah ditelisik lebih dalam juga kebanyakan lagu dangdut adalah hasil menjiplak lagu-lagu dari India atau Arab, bisa dikatakan menyedihkan memang.

Bila ditelusuri lagi ternyata sedikit sekali penyanyi dangdut mempunyai latar belakang pendidikan yang lumayan, katakanlah setara S1. Atau carilah penyanyi dangdut atau musisi dangdut yang berlatar belakang sekolah musik juga hampir-hampir tidak ada. Proses penciptaan lagunya pun adalah menyanyi dengan diiringi musik kemudian terciptalah lagu. Bukan menuangkannya kedalam partisi dengan larikan not balok, tidak ada itu! Sudah saatnya, kalau tidak boleh dibilang terlambat, para pedangdut itu memikirkan pengembangan dangdut secara lebih baik, mungkin membuka sub program dangdut pada sekolah-sekolah musik, membuat kontes-kontes lain, bukan saja mencari penyanyi baru, tetapi juga untuk lagu-lagu baru dan grup-grup musik dangdut yang baru. Jadi nyanyi dangdut bukan saja mengeluarkan suara mendesah dan bergoyang yang merangsang.

Ini adalah pikiran sendiri, bukan berdasarkan hasil survey, juga tidak didahului dengan penelitian yang seksama, analisa ini pastilah belum tentu benar, jadi pada para penonton, bapak-bapak ibu-ibu, maafkanlah......(jreng-jreng, dut dut)

1 pesan:

LieZMaya - Jungjunan

2:05 PM

ehm ehm, iya ad abakat terpendam dari insani dangdut tuh.

Jangan Asal Copy Paste, karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya. Jika anda ingin mengcopy paste Tulisan/ Content Di Blog ini saya persilahkan, namun dengan catatan HARAP MENYEBUTKAN NAMA PENULIS (Nijar Hisam/ Langit Hening) DAN SUMBER URL LINK BLOG INI!