Seorang perempuan bernama Ling Ling jatuh hati pada seorang laki-laki bernama A Liang. Ling ling sebenarnya tidak begitu yakin dengan kata hatinya. Tetapi dia menutup saja ketidak yakinannya itu dengan mengatakan “Tidak apa mencoba, kalau memang tidak cocok tentu bisa diakhiri dengan baik-baik, tidak akan sampai tersakiti.” Ling Ling perlahan mulai merasa cocok dengan A Liang. Perasaan cocok itu lama kelamaan menjadi suka, peduli, hingga sayang, mungkin juga cinta. Itu telah berjalan dua tahun sampai dengan mereka harus menamatkan kuliah. Menjelang wisuda A Liang mengatakan, “Ling, aku akan meneruskan kuliah ke Amerika, karena ada beasiswa untukku melanjutkan kesana. Terus terang aku sangat mencintaimu dan berharap bisa bertunangan dulu sebelum berangkat.”
Ling Ling sangat berat menerima kenyataan itu. Tetapi diapun tahu tidak mungkin egois dengan menahan A Liang agar senantiasa berada disampingnya, mengurungkan niatnya melanjutkan kuliah mencapai cita-citanya. Akhirnya hari perpisahan itu terjadilah, Ling Ling berurai airmata mengantar kekasihnya ke sebuah negeri yang asing. Pulang ke rumah sendiri dengan tangan terus menyentuh cincin tunangan yang melingkar di jari manis. “Hanya setahun” katanya dalam hati, “Aku pasti bisa melewatinya!”.
A Liang berangkat dan tak lama kemudian Ling Lingpun mendapatkan pekerjaan yang bagus. Tapi naas, pada suatu hari sepulangnya dari tempat kerja Ling Ling ditabrak kendaraan yang secara mendadak membanting setir menghindari seekor kucing. Ketika sadar Ling Ling sudah berada dirumah sakit dan hal yang paling tragis adalah ia harus kehilangan suara. Bisu!
Menghadapi kenyataan itu Ling Ling memutuskan meminta keluarganya pindah ke suatu tempat yang terpencil, menyendiri dan memutuskan hubungan dengan dunia luar. Telepon yang datang dari A Liang tidak pernah digubrisnya. Dan tepat setahun pertunangan itu, dihari A Liang kembali ketanah air, Ling Ling memutuskan bahwa pertunangannya telah berakhir. Kisahnya dengan A Liang tinggal sejarah.
Dalam kesendiriannya Ling Ling mulai belajar bahasa isyarat dan karena memang Ling Ling punya kecerdasan yang tinggi, tak lama dia telah menguasainya. Ketika keluarganya membuat syukuran kecil ulang tahun Ling Ling tiba-tiba pintu depan di ketuk orang. Semua penghuni rumah berpandangan karena sejak mereka pindah ke situ belum ada satu orangpun bertamu. Ayahnya kemudian membuka pintu dan begitu terkejut ketika melihat yang datang adalah A Liang. Setelah mengucap salam sebentar dengan orang tua Ling Ling dia menghampiri kekasihnya dan dengan bahasa isyarat yang lancar dia mengatakan “Maafkan aku terlambat setahun kembali padamu karena harus belajar dulu bahasa isyarat ini, sekarang aku telah kembali dan tidak peduli dengan keadaan yang menimpamu ini, aku tetap mencintaimu apa adanya. Ling Ling aku A Liang melamarmu dengan seluruh cinta yang kupunya. Disisa umurku yang aku sendiri tidak tahu akan berapa lama lagi ini, maukah kau mendampingi hidupku, menjadi istriku?”
Ling Ling menghambur, dengan mata yang tidak berkaca-kaca lagi tapi sudah berlinang.
Ling Ling sangat berat menerima kenyataan itu. Tetapi diapun tahu tidak mungkin egois dengan menahan A Liang agar senantiasa berada disampingnya, mengurungkan niatnya melanjutkan kuliah mencapai cita-citanya. Akhirnya hari perpisahan itu terjadilah, Ling Ling berurai airmata mengantar kekasihnya ke sebuah negeri yang asing. Pulang ke rumah sendiri dengan tangan terus menyentuh cincin tunangan yang melingkar di jari manis. “Hanya setahun” katanya dalam hati, “Aku pasti bisa melewatinya!”.
A Liang berangkat dan tak lama kemudian Ling Lingpun mendapatkan pekerjaan yang bagus. Tapi naas, pada suatu hari sepulangnya dari tempat kerja Ling Ling ditabrak kendaraan yang secara mendadak membanting setir menghindari seekor kucing. Ketika sadar Ling Ling sudah berada dirumah sakit dan hal yang paling tragis adalah ia harus kehilangan suara. Bisu!
Menghadapi kenyataan itu Ling Ling memutuskan meminta keluarganya pindah ke suatu tempat yang terpencil, menyendiri dan memutuskan hubungan dengan dunia luar. Telepon yang datang dari A Liang tidak pernah digubrisnya. Dan tepat setahun pertunangan itu, dihari A Liang kembali ketanah air, Ling Ling memutuskan bahwa pertunangannya telah berakhir. Kisahnya dengan A Liang tinggal sejarah.
Dalam kesendiriannya Ling Ling mulai belajar bahasa isyarat dan karena memang Ling Ling punya kecerdasan yang tinggi, tak lama dia telah menguasainya. Ketika keluarganya membuat syukuran kecil ulang tahun Ling Ling tiba-tiba pintu depan di ketuk orang. Semua penghuni rumah berpandangan karena sejak mereka pindah ke situ belum ada satu orangpun bertamu. Ayahnya kemudian membuka pintu dan begitu terkejut ketika melihat yang datang adalah A Liang. Setelah mengucap salam sebentar dengan orang tua Ling Ling dia menghampiri kekasihnya dan dengan bahasa isyarat yang lancar dia mengatakan “Maafkan aku terlambat setahun kembali padamu karena harus belajar dulu bahasa isyarat ini, sekarang aku telah kembali dan tidak peduli dengan keadaan yang menimpamu ini, aku tetap mencintaimu apa adanya. Ling Ling aku A Liang melamarmu dengan seluruh cinta yang kupunya. Disisa umurku yang aku sendiri tidak tahu akan berapa lama lagi ini, maukah kau mendampingi hidupku, menjadi istriku?”
Ling Ling menghambur, dengan mata yang tidak berkaca-kaca lagi tapi sudah berlinang.






1 pesan:
11:31 AM
hmm menunggu kadang rasanya menyebalkan, menjemukan
tapi kalau menunggu seseorang yang ingin kita bahagiakan beda pula rasanya.
Ada banyak hal yang sengaja kita tunggu tunggu dan pada akhirnya pasti akan menepati janji kedatangannya...bukankah begitu yang?
Post a Comment