Kota Bekasi, 4 Desember 2009.
Pertama kali bertemu memang garis – garis halus itu sudah mulai nampak tergambar di wajahmu, diantara kelopak dan lingkaran mata bila saja kau bercermin mungkin kau akan tersadar dan bekata dalam hati “ah aku sudah tua”...
Seseorang yang memanggilmu Anak tua juga beberapa minggu yang lalu telah mengungkapkan penglihatannya yang polos mengenai usiamu itu, setahun lagi hitungan usiamu...katanya, jika kau tua nanti bagaimana? Sedangkan dirinya masih sangat terlampau muda, terpaut puluhan tahun lamanya, dan dengan engteng kau pun berkata “ya jadi kakek – kakek” seraya melemparkan sebuah senyuman. Jauh sekali di lubuk hati gadis itu sangat mengkhawatirkan dirimu, akankah jika nanti engkau telah termakan usia, masihkah akan bisa mengingatnya bahkan masihkan dapat dia menyimpan cintanya yang ikut menua pula, dalam hati hanya dapat mengehala nafas panjang karena jika saja dia tunjukan secara gamblang, sore itu pun pasti saja tidak akan jauh dari luapan air mata.
Ketika perwakilan kedua generasi berbeda itu bertemu, pertautan usia antara kaum tua dan dan kaum muda itu sama sekali tidak menjadi penghalang dalam hal berkomunikasi atau bertukar pikiran. Yang tua lebih cenderung dapat mengerti sikap ego yang masih tertaman besar di dalam kepala si anak muda, dan yang muda semakin puas bermanja dengan si anak tua. Bercengkrama, seakan mereka berasal dari generasi yang sama saja, tidak ada kecanggungan yang terlihat sama sekali, kecuali bila para kaum lainnya berpapasan, seolah mereka menjaga jarak. Namun terus terang saja, si muda berkata tidaklah mudah menjalani cerita ini, terlalu berat berjalan dalam kepura – puraan, bersembunyi dari dunia luar...dan apabila topik ini sudah keluar dan menjadi pembahasan, ujungnya adalah diam dengan isakan.
Hari ini seorang anak tua itu umurnya bertambah lagi satu hitungan angka, sang muda ingin sekali mengucapkan selamat, namun banyak sekali alasan pada tanggal ini untuk hanya berdiam saja, terlebih alasan yang berkaitan dengan hati dan kebingungan...namun jika masih boleh, dan masih belum terlambat menulisakannya disini, masih bisa diterima tulus kedalam hatimu aku ucapkan Selamat ulang tahun tuan. Maafkan diriku yang selama ini hanya dapat membuatmu menghela nafas panjang dan menangis sejadi – jadinya, tidak usahlah ku perpanjang lagi alasan pembelaan diriku dalam tulisan ini...kepada siapalah lagi aku berani dapat bersandar terlalu jika bukan padamu seorang saja, jika kau merah atau hitamkan tintaku tak apa, mohon maaf aku hanya dapat diam saja sekarang ini, seperti yang telah ku curhatkan sebelumnya.
Kau mungkin saja lebih tahu apa yang ada dalam hatiku, karena memang sudah seperti itulah dari dulu, dan itulah mengapa cerita singkat diatas dapat dijalani. Ajaib!







