
Waktu itu aku menemuinya seperti biasa, setiap sabtu sore aku sempatkan diri untuk bertatap muka dengannya di sebuah jembatan bambu kecil yang di bawahnya mengalir sungai yang jernih sebagai sumber kehidupan bagi mahluk hidup di dalam dan sekitarnya, termasuk desa kami yang tidak pernah kekurangan sumber mata air kehidupan.
Pada malam hari terlihat kunang – kunang riang berterbangan di pinggir sungai antara bunga dan rereumputan hijau di sana, ditimpali suara jangkrik dan katak yang saling bersahutan.
Ketika itu sepekan sudah aku di asrama sekolah yang lumayan jauh dari kampung tempat tinggalku. Perjalanan yang biasa ditempuh dalam waktu satu jam dengan menggunakan sepeda motor Kawasaki Ninja kesayanganku. Aku telah menunggu selama setengah jam namun tak kunjung ku lihat batang hidungnya. Tidak biasanya dia berlaku seperti ini, anak itu tidak pernah ngaret, selalu menepati janji. Apalagi tentang pertemuan ini, dia sendiri yang mengusulkan dengan begitu bersemangat, karena kami memang belum pernah bertemu lagi sejak bapakku memaksa untuk pindah sekolah ke Asrama, katanya supaya aku dapat belajar lebih mandiri.
Ah, perasaan cemas meliputi hatiku sedari tadi. Tanpa berpikir panjang lagi aku segera tancap gas menuju rumahnya yang tak jauh dari seberang jembatan itu. Baru beberapa meter meninggalkan jembatan telah terlihat olehku sesosok anak perempuan yang sangat ku kenal. Ooh, syukurlah ternyata itu dia gadis yang telah kutunggu - tunggu dari setengah jam yang lalu dengan gelisah.
Dia pun melambaikan tangannya sambil nyengir, tersenyum lalu mengnucapkan permohonan maaf. Aku pun membalas senyumnya, senyum yang selalu membuat hatiku tenang. Kugoyangkan kepalaku dengan mata menunjukk ke arah tempat duduk belakang sepeda motorku sebagai pertanda ajakan padanya untuk kubonceng.
Tapi dia langsung menolaknya, dan terus berjalan menuju jembatan...”deket kok, nggak apa – apa” sahutnya. Lalu aku pun mengikuti jejaknya dari pinggir pelan pelan seraya menyeimbangkan laju motorku yang terpapah papah pelan. Sangat terlihat jelas ada gambaran kesedihan dimatanya kali ini, dia sama sekali tidak mau mengangkat suara, barang sekedar menanyakan kabarku selama sepekan ini seperti yang biasanya dia lakukan ketika kami bertemu...ya sesuai dengan namanya Zarifah yang mana artinya adalah indah atau cerewet. Aku pun terdiam, tidak berani menanyakan apakah gerangan yang sedang terjadi padanya.
Sampailah kami pada jembatan kecil itu, suara riak gemercik air yang mengalir terdengar jelas karena keheningan tanpa tawanya yang biasanya bergema ditelingaku, di seberang terlihat burung sedang asyik mencari makan di ladang sawah. Kami pun segera mengambil posisi duduk dipinggiran sawah yang hanya beberapa meter jaraknya dari jembatan kecil nan tua itu.
“Hhhhhh” Zarifah menarik nafasnya panjang,
“Capek?” sahutku,
Dia terus saja terdiam lalu menenggelamkan wajahnya menempel ke lutut sambil melipat kedua tangannya. Aku sama sekali tak tahu apa yang harus dilakukan, karena sebelumnya dia tak pernah bersikap seperti ini. Aku pun hanya bisa termangu melihatnya, dan tak henti hentiny bertanya dalam hati tentang apa yang sedang terjadi padanya. Beberapa saat terdengarlah suara isak tangis kecil dari mulutnya, tidak begitu jelas karena tertimpa suara kicauan burung – burung dan gemercik ari sungai. Namun aku dapat melihat punggungnya yang bergetar menahan isak tangis dan tangannya yang sesekali mengusap air mata. Entah mengapa melihat keadaannya yang seperti ini hatiku lama kelamaan merasa sedih dan khawatir, aku tak mungkin menangis, air mata kutahan sekuat tenaga agar tidak keluar dari sudut mataku.
Beberapa saat dia pun mengangkat kembali wajahnya dan menengadahkan sinar matanya ke arah langit, matanya bengkak merah.
“Apa yang terjadi Fah?”
Ooh Tuhan, setelah ku ajukan pertanyaan itu dia malah menangis lagi, dan semakin lama semakin dalam isakannya terdengar keras, ingin sekali ku tahan kucuran air matanya yang deras itu.
“Maafkan aku, jika pertanyaanku menyinggung hatimu Fah. Jika berkenan aku mohon hentikanlah tangisanmu itu dan ceritakan apa yang terjadi...aku khawatir kau akan jatuh sakit nanti” pintaku. Tiba tiba dia memelukku tanpa menghentikan tangisannya dan berkata,
“Tahukah kamu kalau dua jam yang lalu ayahku telah meninggalkan dunia ini untuk selama lamanya? Hahaha”
“Innalillahi wa inna ilahi raji’un....kenapa, apa yang terjadi Fah?”
“Beliau jatuh dari tangga ketika hendak membetulkan lampu kamarku”
“Ooh Tuhan, aku turut berduka Fah, semoga arwah serta amal kebaikannya di Terima disisi-Nya dan segala dosanya di ampuni”
Dia pun melepaskan pelukannya dariku, lalu aku mengusap ari matanya yang basah memenuhi wajahnya, lalu kembali tertawa.
“Kenapa tidak kau beritahukan semanjak tadi lewat handphone? Aku pasti akan menyusulmu ke rumah tadi”
“Aku bingung, masih tidak percaya apa yang terjadi, aku menyesal untuk meminta pertolongannya. Seketika rumah menjadi ramai dipenbuhi dengan orang – orang”
“Sudahlah, itu bukan salahmu...itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa, tidak usah kau sesali, kita sama – sama do’akan seja beliau. Sekarang mari kita ke rumahmu.”
“Ayahku belum meninggal kan Hay?”
Zarifah seperti sedang tidak sepenuhnya sadar, duka yang termat dalam membuatnya menjadi tidak bisa mengendalikan diri...Ia linglung.
Dengan perasaan sedih yang teramat sangat kurengkuh tubuh Zarifah yang lemah itu, keunaikkan keatas motor untuk kubawa kembali kerumahnya.
***
Berselang beberapa bulan dari kejadian itu wajahnya sudah mulai tampak bercahaya kembali, seperti layaknya Zarifah-ku yang dulu. Sebisa mungkin aku selalu berusaha menghiburnya untuk melupakan kesedihan akan kehilangan sosok seorang ayah dalam kehidupannya.Zarifah dan aku adalah dua insan yang dipertemukan oleh sebuah ikatan perjodohan oleh orang tua kami sejak kami berumur 10 tahun. Namun tidak seperti kebanyakan pasangan yang diceritakan dalam drama atau pun novel yang dipaksa – paksakan untuk bersama dan saling mencintai, kami justru bersyukur karena memang rasa cinta itu sudah tumbuh sejak dahulu yang dimulai dengan pertemanan dari kecil sampai sekarang. Bagaimana bisa aku menolaknya, parasnya yang cantik jelita, telah menjadi idaman setiap laki – laki di kampung kami. Hatiku tak pernah bosan menatap matanya yang indah. Menatapnya hingga jauh kedalam sampai kutemukan keteduhan yang menyejukkan, sesejukmata air yang ditemukan musafir di padang pasir.“Lihatlah rangkaian bunga ini Hay” sahutnya.Hay adalah sebuah nama kecil yang sering Zarifah pakai untukku ketika sedang bahagia, sedangkan sebaliknya jika ia sedang naik pitam, ia memanggilku dengan sebutan Hey, dan tentu saja diakhiri dengan tanda seru. Hei!!!yYang disambung dengan nama asliku yakni Haikal hingga menjadi Heikal.“Ooh ya its beautiful Fah” sambutku sambil melihat rangkaian bunga yang ia tunjukkan ketika aku mampir sebentar ke rumahnya untuk memberikan sekotak surat undangan pernikahan kami yang akan dilangsungkan dua puluh lima hari lagi.“Makanlah dulu, sudah ibu siapkan di meja” sambut sang calon ibu mertuaku dengan senyumannya yang lebar.“Iya Bu” lalu aku pun langsung menyerbu ke meja makan di dapur, kabetulan sekali sedari pagi aku berangkat kerja, belum ada sesuatupun pengganjal perutku walaupun hanya sepotong roti. Maklumlah deadline waktu yang sampai akhir pekan itu sangat menguras tenagaku, disamping persiapan pernikahan juga sangat menyita waktu pikiran dan tenaga.Alhamdulillah akad nikah pun telah berjalan lancar tanpa satu halangan yang berarti. Selanjutnya, hari hari yang kami jalani sebagai satu pasangan suami isteri begitu indah dirasakan, walau pun ada ada saja kerikil kecil yang acap kali membuat kami tersandung, namun sekali lagi ku katakan, aku sangat bersyukur telah dijodohkan dengan Zarifah yang sangat mengerti akan sifat baik dan burukku.Genap sudah lima tahun usia pernikahan kami, namun sayangnya belum juga kami di percaya untuk mempunyai keturunan. konsultasi ke dokter ahli kandungan dan berbagai upaya lain telah kami lakukan namun tetap saja belum membuahkan hasil. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil cuti beberapa bulan dari pekerjaan kantor. Untung saja bossku adalah pamanku sendiri yang baik sekali, beliau mengerti dan dengan senang hati membantu membantu niat kami untuk mempunyai anak.
Hari berganti hari, kami mengikuti saran dari dokter, dan Alhamdulillah akhirnya berselang tiga bulan lamanya akhirnya do’a kami terkabul, seorang jabang bayi telah tumbuh di rahim Zarifah, diaadalah anakku, anak kami berdua. Sampai suatu saat menginjak kandungan zarifah berumur tujuh bulan, Zarifah merasakan mulas yang teramat sangat, aku lihat air ketubannya pecah dan darah pun tak mengalir hebat dari rahimnya."Sepertinya sudah waktunya mas, aku tak tahan lagi" dia berkata dengan sambil nada yang terbata - bata karena menahan kesakitan dan sesekali berteriak kecil.Segeralah aku membawanya ke bidan terdekat yang hanya berjarak beberapa blok dari rumah kami, dan Alhamdulillah sujud syukurku panjatkan kepada-Nya begitu mendengar tangisan pertama anaku, yang kami beri nama Ghazali, sesuai dengan permintaan Zarifah yang ingin menamakan bayi kami dengan nama Almarhum ayahnya yang telah berpulang ke sisi-Nya itu.
Tiga puluh menit setelah itu Zarifah merasakan sakit kepala yang luar biasa. Dia menjerit - jerit kesakitan. Bidan yang menolong persalinannya pada saat itu tidak sanggup lagi, lalu merujuk kami untuk pergi ke Rumah sakit terdekat. Sayangnya dalam perjalanan Zarifah isteriku tercinta telah berpulang menghadap Yang Maha Kuasa menyusul Almarhum ayahnya.Betapa hancur hatiku! dunia serasa hitam, gelap, tiada lagi harapan untukku melanjutkan kehidupan. Hanya tangisan Ghazali saat itu yang dapat meredam gejolak emosiku. Sampai saat ini hatiku masih memendam perasaan bersalah kepada Zarifah. Aku merasa telah menukar hembusan nafasnya yang terakhir demi seorang bocah laki - laki yang sekarang setiap harinya ku gendong. Hampa dan terasa tak berarah hidupku, antara penyesalan dan kebahagiaan yang sesuangguhnya kami berdua idamkan.